Usung Circular Economy, Kemenperin Ingin Pacu Industri Sepeda Motor Listrik Nasional

 

 

Elektrifikasi otomotif di Indonesia bukan sebatas ide semata-mata. Perlahan-lahan industrinya mulai jadi perhatian. Sekarang kendaraan listrik dipandang bisa memberi beberapa faedah lebih, dalam metode transportasi. Apa lagi jika dibandingkan dengan kendaraan konservatif. Baik dari faktor lingkungan atau pemikiran energi. Kementerian Perindustrian akui lagi menggerakkan usaha pemercepatan industri lewat circular economy.

Dalam seminar-online yang diselenggarakan oleh Balai Penelitian serta Standarisasi Industri (Baristand) Surabaya. Doddy Rahadi, Kepala Tubuh Riset serta Peningkatan Industri (BPPI) Kemenperin, menjelaskan. Pemerintahan sudah memutuskan peraturan serta taktik pemercepatan peningkatan industri kendaraan motor listrik berbasiskan baterei dalam negeri.

“Kami menggerakkan pemercepatan program kendaraan motor listrik berbasiskan baterei. Untuk transportasi jalan dalam rencana ketahanan energi, kenaikan efektivitas energi, pelestarian energi bidang transportasi. Selanjutnya diwujudkannya energi bersih, kualitas udara bersih serta ramah lingkungan. Dan loyalitas Indonesia turunkan emisi gas rumah kaca,” jelas ia dalam pengakuan sah ke OTO.com (6/11).

Selaku usaha pemercepatan industri sepeda motor listrik. Kemenperin mengangkat ide circular economy. Gambarannya berbentuk daur ulangi baterei. Bukan konsep: buat, pakai, lalu buang. Ini digadang-gadang selaku cara untuk mendesak dampak negatif dari kendaraan listrik. Yaitu menyanggaknya sampah baterei lithium. Sebab periode gunakan serta transisi pengisiannya yang terbatas. Dengan ide itu, baterei yang telah habis periode gunakan akan diproses Kembali lagi. Ditambah lagi, Indonesia tidak mempunyai sumber alam mineral lithium. Jadi implementasi circular economy dipandang bertambah lebih pas.

Tingkatan lakukan peningkatan pasar kendaraan motor listrik nasional bisa disaksikan dalam periode pendek, menengah serta panjang. Dan peningkatan industri dalam periode menengah panjang, plus peningkatan tehnologi. Doddy menjelaskan, sepeda motor adalah kendaraan favorite warga.

Berdasarkan Data Tubuh Pusat Statistik (BPS), tingkat pemasaran sepeda motor per tahun naik tajam semenjak 2003. Serta capai pemasaran lebih dari 6 juta unit pada 2019. Dengan menyaksikan angka itu, kesempatan untuk masuk ke usaha sepeda motor listrik dipercaya mempunyai potensi tinggi. Dia menjelaskan, sampai semester 1 sepanjang 2020 terdaftar ada 10 manufacturing sepeda motor listrik yang bekerja. Diprediksi kemampuan produksi sampai 850 ribu unit setiap tahun. Lantas meresap tenaga kerja seputar 1.500 orang.

Aan Eddy Antana, Kepala Baristand Surabaya turut menambah. Lembaga yang dipegangnya sudah lakukan beberapa riset berkaitan sepeda motor listrik. Diantaranya stasiun pengisian baterei kendaraan listrik. Gagasannya, daya untuk pengisian didapatkan dari panel surya dan kombinasi dari sumber tegangan dari grid Perusahaan Listrik Negara (PLN). “Nanti, stasiun pengisian beterai sepeda motor listrik diperlengkapi dengan situs box untuk kepentingan komunikasi data. Menjadi pemilik stasiun bisa memantau secara real time serta panel interface untuk kepentingan billing (tanda terima penagihan) konsumen setia,” katanya.

Pemakaian sepeda motor listrik diinginkan memberi beberapa nilai positif. “Misalkan dari pemikiran energi. Penggunaan kendaraan listrik ramah lingkungan serta efektif. Dan tawarkan pilihan bahan bakar untuk perkuat ketahanan energi. Dari pemikiran transportasi, kendaraan listrik memungkinkannya metode transportasi pintar yang akan tingkatkan utilitas, keamanan jalan,” tambah Kepala Baristand.

Untuk dipahami, kendaraan listrik memakai baterei lithium ion dengan bahan aktif katoda. Kandungnya menyertakan elemen lithium, nikel, kobalt, mangan serta alumunium. Katoda sendiri, memberi andil tertinggi pada harga sel baterei lithium. Menurut Doddy seputar 34 %. Karenanya, Kemenperin pengin supaya material mampu diolah dalam negeri untuk memperoleh harga yang lebih ekonomis. Ingat, Indonesia mempunyai sumber daya alam banyak. Bisa dibuat jadi bahan aktif itu.

Yang sedang dikerjakan Kemenperin lewat B4T, yakni usaha lakukan substitusi import di bagian energi. Triknya dengan membuat bahan aktif katoda berbasiskan NMC (nikel-mangan-kobalt). Lalu proses pengerjaan material aktif ini memakai produk industri smelter Indonesia. Tetapi, menurut dia, proses substitusi import bahan aktif katoda mempunyai masalah, yakni sumber lithium.

Dia mengutarakan, Indonesia tidak mempunyai sumber alam mineral lithium, untuk menangani rintangan itu. Tetapi Kemenperin mengakui sudah menginisiasi proses daur ulangi lithium dari baterei sisa. Atau dengan bahasa tehnis, cara ini diketahui dengan arti urban mining.

By Preston

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!